... duniaku tak sama lagi adanya.
Aku masih ingat jelas bagaimana hangat menjalar dalam tiap pembuluh darahku setiap kali kamu menggenggam tanganku. Aku masih ingat jelas bagaimana semerbak aroma rambutmu menggerus ke dalam indra penciumanku ketika setiap paginya kutemukan dirimu dalam dekapku. Aku masih ingat jelas rasa masakanmu yang selalu menjadi favoritku dari awal kita memadu kasih. Aku masih ingat jelas ─── masih kuingat jelas semuanya, setiap hal darimu yang terlukis jelas dalam memoriku dan aku merindukan itu semua. Kurindukan tanpa terkecuali sampai rasanya jiwaku meraung ingin pergi bersamamu.Rasanya baru kemarin kita berbagi kasih sembari bergandeng tangan menyusuri taman kota di sore hari, menikmati sang mentari yang turun perlahan dan digantikan oleh rembulan. Rasanya baru kemarin aku masih mendekapmu dengan eratnya, menghujanimu dengan ribuan afeksi serta tenggelam dalam kasihmu yang tak terkira sepanjang masa. Rasanya baru kemarin aku melihatmu yang sedang sibuk memasak di dapur rumah kita, membawakan masakanmu yang baru matang ke meja untuk dicicipi bersama. Rasanya baru kemarin aku meminta dirimu, cintamu, dan seluruh sisa kehidupan ─── ah, tidak, semua roda kehidupanmu untuk selalu bersamaku. Rasanya baru kemarin kita berjanji untuk selalu bersama ... selamanya. Rasanya baru saja aku masih melihat senyuman indah terpoles di wajahmu, tetapi kini telah lenyap tak bersisa.Tidak banyak yang mampu kusimpulkan dari semua kehidupan yang telah kulalui, aku bahkan tidak tahu apakah hal yang kumiliki ini sebuah anugerah atau kutukan. Aku tidak tahu, aku tidak ingin tahu, dan aku tidak berniat untuk mencari tahu. Yang aku inginkan hanya satu, untuk selalu bersamamu meski rasa sakit nan abadi sudah tergores di hatiku tanpa henti ─── sebab duniaku tak sama lagi adanya tanpa dirimu, Rani.